Keputusan hakim sudah bulat
Abang akan dikerangkeng beberapa bulan
Padahal abang hanya mencuri sepotong roti
Tapi tidak apa
Abang lebih bahagia di balik jeruji
Terima kasih bapak hakim
Di bui abang tidak kelaparan
Terima kasih bapak hakim
Di bui abang terlindung dari ganasnya langit
Terima kasih bapak hakim
Di bui abang lebih hidup
Terima kasih bapak hakim
Sudah membuat abang lebih bahagia
Terima kasih bapak hakim
Kini aku menjadi lebih bahagia juga
Tak kusangka kelaparan pada akhirnya dapat menghiburku
Ah, harum bunga warna-warni yang mereka lempar
Ah, semakin nyaman aku terbaring lemas disini
Terima kasih bapak hakim
Kini aku punya rumah untuk berlindung
Terima kasih bapak hakim
Kini aku tidak pernah kelaparan lagi
Terima kasih bapak hakim
Sudah memperbaiki nasibku dan abang
Kami tak bersama tapi nasib hampir sama
Abang berdiri dan aku terbaring
Abang hidup dan aku jadi tulang kering
-Arjen L. Melkior
Sunday, 31 May 2015
Tuesday, 26 May 2015
Di Balik Layar Bisu
Aku tidak mengerti mengapa aku begitu gugup. Semakin aku memikirkannya, kebisingan ibukota seakan perlahan bungkam, ditelan keresahan. Ini bukan pertama kalinya aku menemui dia. Tapi aku betul-betul gugup. Leherku seperti distrum oleh tegangan listrik rendah berkali-kali. Nafasku memberat, menyebabkan dadaku beberapa kali membusung.
Setiap langkah kakiku bagai goresan kuas yang terus memperjelas bayang-bayang dirinya dalam pikiranku. Melangkah, dan bayang dirinya makin jelas. Semakin aku melangkah, semakin jelas. Sangat nyata.
Astaga! Itu bukan bayang-bayang pikiranku. Itu benar-benar dia. Tanpa dirasa aku sudah sampai di tempat pertemuan kami. Aku harus mengurangi kebiasaan berjalan dengan pikiran setengah fokus.
Dia sedang duduk sendirian, terdiam, sambil memandang keluar jendela yang ada di samping kirinya. Aku segera berjalan menghampirinya lalu duduk di depannya. Dia agak terkejut dengan kemunculanku yang seperti setan di siang bolong. Nampaknya, saat aku masih berdiri dan tertegun tadi, dia belum melihatku.
Aku sangat gugup, apalagi begitu menatap wajahnya yang merona dan dangat jelas dengan bantuan langit cerah hari itu. Aku masih terdiam, sebab aku masih bercampur aduk gugup dan ngantuk. Dia juga terdiam. Mungkin juga karena mengantuk. Kami berdua sama-sama kurang tidur.
Kemarin aku membuat suatu kesalahan dan kami berdebat sampai pagi dini hari tadi. Sebuah perdebatan panjang yang menghabiskan banyak tenaga untuk menahan segala bentuk emosi. Perdebatan yang diakhiri dengan penerimaan permohonan maafku padanya. Aku tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa aku sebenarnya gugup karena perasaan menyesal dan marah kepada diri sendiri yang bercampur aduk menjadi sedih karena telah membuat dirinya tersakiti dan menangis. Aku sangat gugup. Padahal dia sudah memaafkan aku dan sudi bertemu denganku. Seharusnya aku senang dan bersemangat. Tapi mulutku mendadak gagu, jemari kaku, jantung menggebu.
Aku masih diam sambil terus menatap wajah manisnya. Aku sering melihatnya dan bertemu, tapi aku selalu rindu. Bahkan kegugupan saja tidak bisa mengalahkan rinduku. Akupun terlihat seperti orang gila yang terus memandang wajahnya sambil terdiam, tangan berkeringat, tapi sesekali tak sanggup menahan senyum.
Dia tersenyum dan mulai bicara. Suara lembutnya bagai tangan halus yang segera mengelus dada, meredam gelisah, menggetarkan batin. Aku malah makin tak bisa berkata-kata. Tetap diam lantaran malu, gugup, dan tidak enak hati. Berusaha keras diam walau batinku sudah betul-betul bergetar.
Ya Tuhan, siapa sangka soal cinta mampu meraih sensor yang dapat meledakkan diriku. Genggam tanganku dan buat bicara, maka akan meluap-luaplah air mataku. Lumer hati batuku, banjir mata batinku.
-Arjen L. Melkior
Setiap langkah kakiku bagai goresan kuas yang terus memperjelas bayang-bayang dirinya dalam pikiranku. Melangkah, dan bayang dirinya makin jelas. Semakin aku melangkah, semakin jelas. Sangat nyata.
Astaga! Itu bukan bayang-bayang pikiranku. Itu benar-benar dia. Tanpa dirasa aku sudah sampai di tempat pertemuan kami. Aku harus mengurangi kebiasaan berjalan dengan pikiran setengah fokus.
Dia sedang duduk sendirian, terdiam, sambil memandang keluar jendela yang ada di samping kirinya. Aku segera berjalan menghampirinya lalu duduk di depannya. Dia agak terkejut dengan kemunculanku yang seperti setan di siang bolong. Nampaknya, saat aku masih berdiri dan tertegun tadi, dia belum melihatku.
Aku sangat gugup, apalagi begitu menatap wajahnya yang merona dan dangat jelas dengan bantuan langit cerah hari itu. Aku masih terdiam, sebab aku masih bercampur aduk gugup dan ngantuk. Dia juga terdiam. Mungkin juga karena mengantuk. Kami berdua sama-sama kurang tidur.
Kemarin aku membuat suatu kesalahan dan kami berdebat sampai pagi dini hari tadi. Sebuah perdebatan panjang yang menghabiskan banyak tenaga untuk menahan segala bentuk emosi. Perdebatan yang diakhiri dengan penerimaan permohonan maafku padanya. Aku tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa aku sebenarnya gugup karena perasaan menyesal dan marah kepada diri sendiri yang bercampur aduk menjadi sedih karena telah membuat dirinya tersakiti dan menangis. Aku sangat gugup. Padahal dia sudah memaafkan aku dan sudi bertemu denganku. Seharusnya aku senang dan bersemangat. Tapi mulutku mendadak gagu, jemari kaku, jantung menggebu.
Aku masih diam sambil terus menatap wajah manisnya. Aku sering melihatnya dan bertemu, tapi aku selalu rindu. Bahkan kegugupan saja tidak bisa mengalahkan rinduku. Akupun terlihat seperti orang gila yang terus memandang wajahnya sambil terdiam, tangan berkeringat, tapi sesekali tak sanggup menahan senyum.
Dia tersenyum dan mulai bicara. Suara lembutnya bagai tangan halus yang segera mengelus dada, meredam gelisah, menggetarkan batin. Aku malah makin tak bisa berkata-kata. Tetap diam lantaran malu, gugup, dan tidak enak hati. Berusaha keras diam walau batinku sudah betul-betul bergetar.
Ya Tuhan, siapa sangka soal cinta mampu meraih sensor yang dapat meledakkan diriku. Genggam tanganku dan buat bicara, maka akan meluap-luaplah air mataku. Lumer hati batuku, banjir mata batinku.
-Arjen L. Melkior
Monday, 25 May 2015
Di Balik Selimut
Sepasang mata memandang langit-langit. Tapi bukan langit-langit kamar, melainkan langit-langit selimut yang direntangkan seperti tenda dengan kaki ditekuk, telapak kaki segaris lurus menapak pada kasur. Diantara bising nafas mereka yang tertidur malam itu, bocah laki-laki itu terdiam di balik selimutnya. Moga-moga nafas tergesa-gesa bocah itu tidak terdengar oleh orang lain.
Tangan kurus yang ringkih perlahan meraih telepon genggam dan segera menyalakannya di dalam gelap tenda selimut. Dengan hati-hati bocah itu berusaha menghubungi manusia yang selalu ia rindukan, yang baru tadi pagi ia kecewakan.
Sungguh lugu dan bodoh bocah itu. Sudah dua kali dia bikin pujaan hatinya kecewa dan masih tidak mengerti juga. Padahal sangat mudah, cukup mendengar dan berusaha mengerti serta peduli. Tapi bocah itu kelewat bingung. Memang dasar lelaki sudah menjadi tabiatnya seperti itu. Terlalu mengandalkan logika, logika, dan logika. Padahal semasa titit masih berkulup, anak laki-laki paling cengeng dan manja, sangat penuh perasaan. Entah mengapa, begitu besar rata-rata jadi bajingan tengik.
Bocah laki-laki itu bajingannya semakin menjadi. Namun biar bajingan, resah yang bertubi-tubi menyelimuti. Ada sesuatu yang janggal. Ada sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Di balik selimut tipisnya, terdengar nafas yang tak teratur. Bocah laki-laki itu menangis. Kini bagian dalam tenda jadi banjir bandang. Tangan kurus bocah itu jadi korban, digerogoti gigi-gigi tajam bocah yang berusaha menahan isak tangisan. Dia tidak ingin membangunkan yang lain. Siapa yang mengira ternyata bajingan tengik itu keok juga dihantam air mata perempuan. Iya, pujaan hatinya menangis, dan bocah lelaki itu langsung lumer tak berdaya, tak kuasa, rasanya seperti bunuh diri bagi bocah lelaki itu. Nyatanya lawan seorang bajingan tengik bukanlah kehidupan jalanan yang penuh hantaman fisik dari segala arah, lawan sebenernya adalah air mata perempuan, yang terlihat berkilauan dan indah saat butir demi butir mengalir, tapi cukup ganas untuk bikin bajingan tengik minta ampun.
Malam itu, di bawah perlindungan selimut tipisnya, bocah lelaki itu meledak-ledak sendiri. Tersesat dalam halusinasi. Bentangan selimut sesaat seperti layar proyektor planetarium tanpa gambar planet dan bintang, tapi film dari potongan memori bocah lelaki itu dengan kekasih hatinya. Banyak tawa dan bahagia, namun yang dulu pernah bocah itu lewatkan ialah disaat-saat dia tidak peduli atau peka terhadap keadaan. Barulah ia sadar betapa tololnya dia selama ini. Mengabaikan perasaan seseorang yang seharusnya paling dia perhatikan, seseorang yang sudah menanamkan harapannya.
Pada akhirnya, seorang bajingan tengik pun masih punya hati, walau sudah tidak berbentuk akibat benturan selama tumbuh jadi bajingan.
Ah, cinta, cinta, cinta. Begitulah cinta mati. Cinta sekali sampai mati-matian. Bajingan tengik pun kalah sama yang namanya cinta. Hanya cinta yang bisa bikin buaya puasa makan ayam. Sama seperti halnya ketika hanya cinta yang bisa membuat seorang bajingan tengik menangis, mohon ampun, gerung-gerung, mendadak ingat Tuhan, sampai peduli setan dengan ego dan gengsi.
Bocah lelaki itu berusaha untuk tetap santai dan tenang, tapi memang bangsat yang namanya perasaan ketika mengalir deras. Bocah lelaki itu tak kuasa dan malah salah tingkah. Sudah tau salah tingkah harusnya malu dan berhenti, bocah lelaki itu malah semakin gigih dan terseok-seok menguatkan diri sambil terus berusaha memperbaiki hati dari perempuan kesayangannya itu.
Ah, cinta, hati, dan perasaan. Ketiganya bagai kombinasi pelumas bagi roda gir pribadi-pribadi bajingan yang sudah lama berkarat. Lihatlah bocah lelaki itu, dirinya mendadak seperti baru dibanjiri pelumas, batinnya bergetar, salah tingkah berulang kali tapi masih belum menyerah juga, tidak rela melihat pujaan hatinya menderita, tidak rela membiarkan cintanya mati begitu saja.
Subuh sudah hampir tiba, langit gelap malam sudah membiru, dan bocah lelaki itu masih terjaga, dibawah selimutnya, masih berusaha.
-Arjen L. Melkior
Tangan kurus yang ringkih perlahan meraih telepon genggam dan segera menyalakannya di dalam gelap tenda selimut. Dengan hati-hati bocah itu berusaha menghubungi manusia yang selalu ia rindukan, yang baru tadi pagi ia kecewakan.
Sungguh lugu dan bodoh bocah itu. Sudah dua kali dia bikin pujaan hatinya kecewa dan masih tidak mengerti juga. Padahal sangat mudah, cukup mendengar dan berusaha mengerti serta peduli. Tapi bocah itu kelewat bingung. Memang dasar lelaki sudah menjadi tabiatnya seperti itu. Terlalu mengandalkan logika, logika, dan logika. Padahal semasa titit masih berkulup, anak laki-laki paling cengeng dan manja, sangat penuh perasaan. Entah mengapa, begitu besar rata-rata jadi bajingan tengik.
Bocah laki-laki itu bajingannya semakin menjadi. Namun biar bajingan, resah yang bertubi-tubi menyelimuti. Ada sesuatu yang janggal. Ada sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Di balik selimut tipisnya, terdengar nafas yang tak teratur. Bocah laki-laki itu menangis. Kini bagian dalam tenda jadi banjir bandang. Tangan kurus bocah itu jadi korban, digerogoti gigi-gigi tajam bocah yang berusaha menahan isak tangisan. Dia tidak ingin membangunkan yang lain. Siapa yang mengira ternyata bajingan tengik itu keok juga dihantam air mata perempuan. Iya, pujaan hatinya menangis, dan bocah lelaki itu langsung lumer tak berdaya, tak kuasa, rasanya seperti bunuh diri bagi bocah lelaki itu. Nyatanya lawan seorang bajingan tengik bukanlah kehidupan jalanan yang penuh hantaman fisik dari segala arah, lawan sebenernya adalah air mata perempuan, yang terlihat berkilauan dan indah saat butir demi butir mengalir, tapi cukup ganas untuk bikin bajingan tengik minta ampun.
Malam itu, di bawah perlindungan selimut tipisnya, bocah lelaki itu meledak-ledak sendiri. Tersesat dalam halusinasi. Bentangan selimut sesaat seperti layar proyektor planetarium tanpa gambar planet dan bintang, tapi film dari potongan memori bocah lelaki itu dengan kekasih hatinya. Banyak tawa dan bahagia, namun yang dulu pernah bocah itu lewatkan ialah disaat-saat dia tidak peduli atau peka terhadap keadaan. Barulah ia sadar betapa tololnya dia selama ini. Mengabaikan perasaan seseorang yang seharusnya paling dia perhatikan, seseorang yang sudah menanamkan harapannya.
Pada akhirnya, seorang bajingan tengik pun masih punya hati, walau sudah tidak berbentuk akibat benturan selama tumbuh jadi bajingan.
Ah, cinta, cinta, cinta. Begitulah cinta mati. Cinta sekali sampai mati-matian. Bajingan tengik pun kalah sama yang namanya cinta. Hanya cinta yang bisa bikin buaya puasa makan ayam. Sama seperti halnya ketika hanya cinta yang bisa membuat seorang bajingan tengik menangis, mohon ampun, gerung-gerung, mendadak ingat Tuhan, sampai peduli setan dengan ego dan gengsi.
Bocah lelaki itu berusaha untuk tetap santai dan tenang, tapi memang bangsat yang namanya perasaan ketika mengalir deras. Bocah lelaki itu tak kuasa dan malah salah tingkah. Sudah tau salah tingkah harusnya malu dan berhenti, bocah lelaki itu malah semakin gigih dan terseok-seok menguatkan diri sambil terus berusaha memperbaiki hati dari perempuan kesayangannya itu.
Ah, cinta, hati, dan perasaan. Ketiganya bagai kombinasi pelumas bagi roda gir pribadi-pribadi bajingan yang sudah lama berkarat. Lihatlah bocah lelaki itu, dirinya mendadak seperti baru dibanjiri pelumas, batinnya bergetar, salah tingkah berulang kali tapi masih belum menyerah juga, tidak rela melihat pujaan hatinya menderita, tidak rela membiarkan cintanya mati begitu saja.
Subuh sudah hampir tiba, langit gelap malam sudah membiru, dan bocah lelaki itu masih terjaga, dibawah selimutnya, masih berusaha.
-Arjen L. Melkior
Sunday, 24 May 2015
Berlutut, Membujuk, Memohon
Tahukah kamu, bagaimana rasanya ketika terbangun di pagi hari
dan mengetahui bahwa dia menghilang begitu saja?
dan mengetahui bahwa dia menghilang begitu saja?
Darah mengalir cepat menuju kepala
jantung mau jebol
nafas tak teratur
Otak sekian kali kuputar-putar sampai mual
mencoba mencari memori atas apa yang terjadi
Tapi sia-sia setiap sudut putaran otakku itu
Tidak tahu apa-apa
Tidak tahu apa yang terjadi
Darah mengalir cepat sampai ke otak
jantung rontok hampir botak
Mandi keringat
mandi air mata
mandi darah
Benci, benci, benci
Kehilangan dan tidak mengetahui apa-apa
Sepasang setan perusak otak pembuat hati kotor
Sepasang setan paling dibenci manusia
Entah aku yang kelewat bodoh
atau memang kamu lihai bersembunyi
bermain dengan waktu mengulur geram
mendorongku ke ujung tebing curam
Silakan kamu pacu detak jantungku seperti kuda judi
peras habis harapan dan tekadku
sita hampir seluruh waktuku
tusuk aku dengan lidah tajammu
silakan kamu bersikap tidak peduli
aku tidak masalah
Tapi jangan pernah paksa aku untuk berhenti peduli
sampai aku jadi makanan setan pun aku akan tetap peduli
Ah, sayangku,
penyejuk hati yang sepi
tak perlu kamu berkorban mati-matian
bukan darah, harta, atau nikmat
Pintaku tidak rumit
Hargai aku
Bicara padaku
- Arjen L. Melkior
- Arjen L. Melkior
- Arjen L. Melkior
Monday, 4 May 2015
Listening to You
Here are my ears
Slave of the words
Trigger of the tears
Victim of your sword
Here are my ears
Made for listening
As you burst in tears
Every morning till late in the evening
Tell me your sorrow and your fears
Go on
Shower me with your burning arrows of anger
Don't hesitate
Bash me with the prisoner of your eyes
Stab me with your stories of joy with anyone else but me
I don't mind, wreck me even harder
Let this slavery run until the sun rises again
Go on, write your name with your sword of words on my heart,
through my ears, my brain, down my vein, pumping me up with all your feels
Like a raid of compassion and truth,
Wreck me
Stab me
Bash me
Haunt me
Possess me
Stab me
Wreck me
Bash me
Hold me
Hold me
Hold me
Hold me
Love me
-Arjen L. Melkior
Slave of the words
Trigger of the tears
Victim of your sword
Here are my ears
Made for listening
As you burst in tears
Every morning till late in the evening
Tell me your sorrow and your fears
Go on
Shower me with your burning arrows of anger
Don't hesitate
Bash me with the prisoner of your eyes
Stab me with your stories of joy with anyone else but me
I don't mind, wreck me even harder
Let this slavery run until the sun rises again
Go on, write your name with your sword of words on my heart,
through my ears, my brain, down my vein, pumping me up with all your feels
Like a raid of compassion and truth,
Wreck me
Stab me
Bash me
Haunt me
Possess me
Stab me
Wreck me
Bash me
Hold me
Hold me
Hold me
Hold me
Love me
-Arjen L. Melkior
Saturday, 2 May 2015
Ruang
I.
Aku adalah manusia
Dengan sekian ruang kosong di sekujur tubuhku
Sebut saja aku rumah
Bangunan dengan ruang-ruang kosong di dalamnya
Bangunan yang setiap ruangannya bisa jadi tempat istirahat
Iya, aku adalah rumah
Hangat tapi sepi
Terawat tapi kosong
II.
Apakah kamu tersesat?
Jangan takut, kamu tidak sendirian
Kenapa merengut?
Jangan cemberut begitu
Bicara
Biar ku dengar suaramu
Biar ku simak suka-dukamu
Bicara
Kenapa membatu?
Dingin?
Apa yang kamu risaukan?
Baiklah
Tidak apa kalau belum mau bicara
III.
Aku adalah sebuah rumah
Dengan ruang-ruang kosong di dalamnya
Silakan kamu singgah dan istirahat
Ruang-ruang disela jemariku
Biar diisi oleh jemarimu
Hangat mengalir dari ujung jari hingga tangan
Moga-moga ini jadi awal ketenangan
Silakan kamu isi ruang-ruang kosong di kedua lenganku
Biar aku dekap kamu
Tulang pipi beradu tulang rusuk
Wajah mengahadap langit
Tubuh dingin jadi hangat
Badan kaku jadi santai
Hati batu jadi luluh
Kenapa kamu menggeser kepalamu?
Dari ruang dada pindah ke ruang leher
Apa detak jantungku mengagetkanmu?
Maaf, aku....
*
Tidur
Dia sudah tertidur
Kepalanya masih betah
Hidung bangirnya menjajah
Nafas lembut bikin merinding
Jantung rontok
Pikiran terbang
Luluh
Melayang
Tidur
Ooh, kenyamanan
-Arjen L. Melkior
Aku adalah manusia
Dengan sekian ruang kosong di sekujur tubuhku
Sebut saja aku rumah
Bangunan dengan ruang-ruang kosong di dalamnya
Bangunan yang setiap ruangannya bisa jadi tempat istirahat
Iya, aku adalah rumah
Hangat tapi sepi
Terawat tapi kosong
II.
Apakah kamu tersesat?
Jangan takut, kamu tidak sendirian
Kenapa merengut?
Jangan cemberut begitu
Bicara
Biar ku dengar suaramu
Biar ku simak suka-dukamu
Bicara
Kenapa membatu?
Dingin?
Apa yang kamu risaukan?
Baiklah
Tidak apa kalau belum mau bicara
III.
Aku adalah sebuah rumah
Dengan ruang-ruang kosong di dalamnya
Silakan kamu singgah dan istirahat
Ruang-ruang disela jemariku
Biar diisi oleh jemarimu
Hangat mengalir dari ujung jari hingga tangan
Moga-moga ini jadi awal ketenangan
Silakan kamu isi ruang-ruang kosong di kedua lenganku
Biar aku dekap kamu
Tulang pipi beradu tulang rusuk
Wajah mengahadap langit
Tubuh dingin jadi hangat
Badan kaku jadi santai
Hati batu jadi luluh
Kenapa kamu menggeser kepalamu?
Dari ruang dada pindah ke ruang leher
Apa detak jantungku mengagetkanmu?
Maaf, aku....
*
Tidur
Dia sudah tertidur
Kepalanya masih betah
Hidung bangirnya menjajah
Nafas lembut bikin merinding
Jantung rontok
Pikiran terbang
Luluh
Melayang
Tidur
Ooh, kenyamanan
-Arjen L. Melkior
Thursday, 30 April 2015
A Reply to A Fan Letter
Dear,
No Name
Thank you very much for the fan letter that you wrote for me few days ago. To be honest, this is my first time receiving a fan letter. I'm very glad that you have the urge to actually spare your time to write for me. I really appreciate it. The way you beautifully write such letter really flattered me. I should admit, it is very special. Never in my whole life I expect to receive anything that would turn out to be very special for me. For me, your fan letter is more than just adulations, it deserves better terms. Your letter deserves better title, for it is very sincere and beautifully written.
Somehow, each word in the letter gives warm vibe into my eyes, through my brain, and straight to my heart. I can feel your sincere self let your mind pour its beautiful thoughts into the sincere words of yours. As I read the last words of your letter, I just realized that I've been smiling like an idiot the whole time. I am that awkward guy who's having hard time hiding his happiness. I may seem to be very engaging from my words, but after all, I am still that awkward guy who simply writes.
I never thought that there would be someone out there who will patiently wait for me to publish my writings, read it all from end to end, and kindly feel each words of my writing carefully. What made me even happier is how you actually manage to understand my writings very well, which is a sign for me that I succeeded in spreading the message that I actually want people to receive and understand. It really is an incredible feeling to know someone actually has the willing to not only simply read, but also feel my writings. I get even happier to know that a person with a beautiful mind like you have the guts and courage to approach me through your letter. Yes, your eyes aren't broken, you do have a beautiful mind, I just knew it from the smooth flow of sentences in your letter.
How you analized me from my words of love, just gave me a definition about what kind of person I actually am. I always have difficulties in defining my true self, I would get an F for how bad I am in judging myself. Just like what you said, I am a desperate lover. It is true, I guess. Your explanation about how I gently pour my heart into every writing really fits the category of a desperate lover. And I can't doubt that. Turns out I really am desperate when it comes to loving someone. I really have this great needs of sharing my love to the one that I think deserves it. I myself, is not even a professional writer, but when I start putting my heart into my writings, I can go crazy and spent the whole night just for a short poem. Yes, I am that awkward guy who is also a desperate lover. Either in a platonic or romantic way, you name it.
I still can't stop this overflowing feeling of happiness. Your letter is too lovely to be true. I feel like I want to print out your letter, make a lot of copy, so I can stick your letter to my books, to the walls of my room, keep it in my bag, fold a copy into small square so I can put it in my wallet. And everytime I feel blue, I'll just simply open my wallet, take your lovely letter out, read, and let the warm loving mind of yours hold me once again.
Here's a confession. Just like how you said that you fall in love with me by my words, I fall in love with you already since the first paragraph.
And I am more overflowed with feelings, the moment I know that behind that anonymous identity of yours, is you, my lover. After all, it's always been you.
Thank you, love. Thank you for all the time, the feelings, and your little surprises. Thank you.
Love,
Arjen Lubnan Melkior
P.S.: Still interested in the coffee date you offered me in the first paragraph of your letter? :)
No Name
Thank you very much for the fan letter that you wrote for me few days ago. To be honest, this is my first time receiving a fan letter. I'm very glad that you have the urge to actually spare your time to write for me. I really appreciate it. The way you beautifully write such letter really flattered me. I should admit, it is very special. Never in my whole life I expect to receive anything that would turn out to be very special for me. For me, your fan letter is more than just adulations, it deserves better terms. Your letter deserves better title, for it is very sincere and beautifully written.
Somehow, each word in the letter gives warm vibe into my eyes, through my brain, and straight to my heart. I can feel your sincere self let your mind pour its beautiful thoughts into the sincere words of yours. As I read the last words of your letter, I just realized that I've been smiling like an idiot the whole time. I am that awkward guy who's having hard time hiding his happiness. I may seem to be very engaging from my words, but after all, I am still that awkward guy who simply writes.
I never thought that there would be someone out there who will patiently wait for me to publish my writings, read it all from end to end, and kindly feel each words of my writing carefully. What made me even happier is how you actually manage to understand my writings very well, which is a sign for me that I succeeded in spreading the message that I actually want people to receive and understand. It really is an incredible feeling to know someone actually has the willing to not only simply read, but also feel my writings. I get even happier to know that a person with a beautiful mind like you have the guts and courage to approach me through your letter. Yes, your eyes aren't broken, you do have a beautiful mind, I just knew it from the smooth flow of sentences in your letter.
How you analized me from my words of love, just gave me a definition about what kind of person I actually am. I always have difficulties in defining my true self, I would get an F for how bad I am in judging myself. Just like what you said, I am a desperate lover. It is true, I guess. Your explanation about how I gently pour my heart into every writing really fits the category of a desperate lover. And I can't doubt that. Turns out I really am desperate when it comes to loving someone. I really have this great needs of sharing my love to the one that I think deserves it. I myself, is not even a professional writer, but when I start putting my heart into my writings, I can go crazy and spent the whole night just for a short poem. Yes, I am that awkward guy who is also a desperate lover. Either in a platonic or romantic way, you name it.
I still can't stop this overflowing feeling of happiness. Your letter is too lovely to be true. I feel like I want to print out your letter, make a lot of copy, so I can stick your letter to my books, to the walls of my room, keep it in my bag, fold a copy into small square so I can put it in my wallet. And everytime I feel blue, I'll just simply open my wallet, take your lovely letter out, read, and let the warm loving mind of yours hold me once again.
Here's a confession. Just like how you said that you fall in love with me by my words, I fall in love with you already since the first paragraph.
And I am more overflowed with feelings, the moment I know that behind that anonymous identity of yours, is you, my lover. After all, it's always been you.
Thank you, love. Thank you for all the time, the feelings, and your little surprises. Thank you.
Love,
Arjen Lubnan Melkior
P.S.: Still interested in the coffee date you offered me in the first paragraph of your letter? :)
Subscribe to:
Posts (Atom)